Selasa, 09 Oktober 2018

Berkunjung dadakan ke Museum Perundingan Linggarjati

Beberapa waktu lalu saat saya ikut berkunjung ke rumah mertua teman saya yang berada di Cilimus. Tidak sengaja kami melewati museum ini dan menyempatkan untuk berkunjung. Seperti kebanyakan museum, tempat ini adalah rumah tua bergaya Belanda yang terdapat barang-barang bersejarah di dalamnya.

Museum perundingan Linggarjati ini tadinya adalah sebuah gubug yang dibangun oleh perempuan bernama Jasitem sebagai tempat tinggalnya. Gubug yang dibangun pada tahun 1918 ini pada akhirnya mengalami renovasi demi renovasi. Gedung ini sendiri sempat mengalami pergantian fungsi dan kepemilikan. Gedung ini pernah menjadi markas tentara, lalu Sekolah Dasar bahkan pernah dipakai sebagai Hotel. 

Replika Gedung Perundingan Linggarjati dan dibelakangnya adalah foto Gedung Perundingan dari masa ke masa sebelum menjadi gedung seperti sekarang ini.


Gedung ini berada di timur Kota Kuningan, tepatnya di jl. Gedung Perundingan Linggarjati, Kecamatan Cilimus, Desa Linggarjati.

Gedung ini adalah saksi bisu dari peristiwa Perundingan Linggarjati yang pada akhirnya menentukan nasib bangsa Indonesia kala itu. Seperti dalam buku-buku sejarah, perundingan Linggarjati terjadi pada 10-12 November 1946. Dimana saat itu kita belum merdeka sepenuhnya karena Belanda belum mau angkat kaki dari negeri ini.

Perundingan ini sendiri adalah salah satu upaya untuk mengusir belanda dari negeri ini. Di mediasi oleh Diplomat Inggris, Lord Killearn sebagain moderator perundingan ini agaknya adil dan tidak berat sebelah.

Seharusnya perundingan diadakan di Jakarta atau Yogyakarta, tapi karena tidak memungkinkan keadaannya diambilah jalan tengah. Setelah itu barulah diputuskan jika perundingan dilaksanakan di Linggarjati.

Bila anda ingin berkunjung kesini, jam buka museum dimulai dari pukul 07.00 WIB dan tutup pada pukul 15.00 WIB. Untuk ukuran wisata, biaya masuk ke museum ini sangatlah murah, hanya dengan Rp. 3.000,- anda sudah bebas mengitari area perundingan dan bebas berfoto-foto ria. Biaya itu belum ditambah biaya parkir jika anda kesini menggunakan kendaraan pribadi, biaya parkir sekitar Rp. 5.000,- .

Di museum ini terdapat kamar-kamar tidur dari para pejuang diplomatik bangsa kita saat itu, seperti Sutan Syahrir, Soesanto, Tirtoprodjo, Mr. Mohamad Roem dan Dr. A. K Gani. Terdapat juga replika kecil atau semacam miniatur dari perundingan Linggarjati.

 (abaikan orang sebelah kiri) Miniatur dari peristiwa perundingan Linggarjati



Didalam museum ini juga terdapat foto-foto dari peristiwa perundingan Linggarjati dan foto-foto pendiri bangsa ini.

Hormat kepada salah satu orang yang paling berjasa buat bangsa ini.


 
Seperti kata Bung Karno “Jas Merah”. Jangan sekali-kali kalian melupakan sejarah. Terkadang ada bagusnya berwisata ke Museum-museum dibanding kita pergi ke mall atau ke pantai. Di museum kita bisa belajar banyak hal, lebih mengenal banyak hal dan sejarahnya. Daripada menghabiskan berjam-jam membaca buku sejarah yang biasanya baru sepuluh menit saja sudah mengantuk. Kenapa kita tidak langsung kunjungi saja tempat-tempat yang ada di buku sejarah, saya jamin kita tidak akan mengantuk.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar