Selasa, 09 Oktober 2018

Mampir ke Curug Sidomba

Curug Sidomba adalah salah satu obyek wisata alam di Obyek Wisata Bumi Perkemahan Sidomba.


Letaknya di kaki gunung ceremai, Desa Peusing, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan. Kenapa bisa dinamakan curug sidomba? Konon katanya dulu curug itu adalah tempat memandikan domba dan hutan sekitar nya itu tempat menggembala domba-domba.

Cara ke curug sidomba

Jika berangkat dari Cirebon ke Kuningan, ambil arah kanan di tiga jalur alternatif yaitu di Prapatan Bandorasa Wetan, Balai Desa Manis Lor atau Balai Desa Manis Kidul kemudian lewat Desa Sembawa dan Desa Peusing.

Namun jika anda berangkat menggunakan angkutan umum, dari Cirebon naik elf(semacam bus kecil) jurusan Kuningan. Turun di Desa Manis Lor lalu lanjutkan pakai ojek untuk menuju ke obyek wisata.
Jika anda dari Cikijing, naik elf jurusan Cirebon yang melewati terminal Cirendang, turun di Desa Manis Lor lalu naik ojek untuk sampai ke obyek wisata.

Harga tiketnya terbilang murah, cukup dengan mengeluarkan Rp 12.000,-/per-orang (dewasa atau anak-anak), anda sudah bisa puas berjalan kemana saja di area itu. Kecuali ke beberapa tempat yang kita mesti membayar lagi untuk menikmati fasilitasnya, seperti Kolam Renang dan Area Outbond.

Jika anda membawa kendaraan sendiri tentunya ada biaya parkir, biaya parkirnya sekitar Rp 4.000,- untuk mobil dan Rp 2.000,- untuk motor.

Di area Obyek Wisata Bumi Perkemahan Sidomba

Tidak hanya curug, di area ini juga banyak hal yang bisa dinikmati dari mulai Outbond, Kolam Renang, Wahana bermain ATV dan yang paling saya sukai Kebun Binatan Kecil. Disitu kita bisa melihat domba bertanduk empat, monyet, ayam kalkun dan yang paling saya suka adalah cendrawasih.

 
Sayang banget burungnya lagi tidak mau memekarkan ekornya.


Setelah dari kebun binatang kecil-kecilan itu saya bergegas ke curugnya.

Jalan kebawah cukup terjal, hati hati saat turun.



Setelah cukup lelah berjalan, akhirnya sampai juga ke curug sidomba yang daritadi saya ingin lihat.


Curug Sidomba

Tinggi curug ini memang cuma tiga meteran tapi jangan salah, curug ini hampir selalu ramai pengunjung walau di hari-hari biasa. Itu karena mitos yang berkembang di masyarakat, jika kita berwudhu menggunakan air keran (sebelah kanan, foto diatas), rezeki kita kedepannya akan mudah datang dan di jauhkan dari malapetaka. Saya sendiri tidak sempat berwudhu karena harus mengantri sangat panjang, maklum inikan hari libur jadi pasti sangat ramai.

Bebatuan di bawah air sangat licin oleh karena itu tidak ada yang berani turun atau basah-basahan. Saya hanya bermain di pinggiran bebatuan sambil menikmati gemericik air terjun.


Sekian perjalanan saya kali ini, jika kalian punya kritik dan saran untuk blog ini, ada baiknya berkomentar dibawah.

Berkunjung dadakan ke Museum Perundingan Linggarjati

Beberapa waktu lalu saat saya ikut berkunjung ke rumah mertua teman saya yang berada di Cilimus. Tidak sengaja kami melewati museum ini dan menyempatkan untuk berkunjung. Seperti kebanyakan museum, tempat ini adalah rumah tua bergaya Belanda yang terdapat barang-barang bersejarah di dalamnya.

Museum perundingan Linggarjati ini tadinya adalah sebuah gubug yang dibangun oleh perempuan bernama Jasitem sebagai tempat tinggalnya. Gubug yang dibangun pada tahun 1918 ini pada akhirnya mengalami renovasi demi renovasi. Gedung ini sendiri sempat mengalami pergantian fungsi dan kepemilikan. Gedung ini pernah menjadi markas tentara, lalu Sekolah Dasar bahkan pernah dipakai sebagai Hotel. 

Replika Gedung Perundingan Linggarjati dan dibelakangnya adalah foto Gedung Perundingan dari masa ke masa sebelum menjadi gedung seperti sekarang ini.


Gedung ini berada di timur Kota Kuningan, tepatnya di jl. Gedung Perundingan Linggarjati, Kecamatan Cilimus, Desa Linggarjati.

Gedung ini adalah saksi bisu dari peristiwa Perundingan Linggarjati yang pada akhirnya menentukan nasib bangsa Indonesia kala itu. Seperti dalam buku-buku sejarah, perundingan Linggarjati terjadi pada 10-12 November 1946. Dimana saat itu kita belum merdeka sepenuhnya karena Belanda belum mau angkat kaki dari negeri ini.

Perundingan ini sendiri adalah salah satu upaya untuk mengusir belanda dari negeri ini. Di mediasi oleh Diplomat Inggris, Lord Killearn sebagain moderator perundingan ini agaknya adil dan tidak berat sebelah.

Seharusnya perundingan diadakan di Jakarta atau Yogyakarta, tapi karena tidak memungkinkan keadaannya diambilah jalan tengah. Setelah itu barulah diputuskan jika perundingan dilaksanakan di Linggarjati.

Bila anda ingin berkunjung kesini, jam buka museum dimulai dari pukul 07.00 WIB dan tutup pada pukul 15.00 WIB. Untuk ukuran wisata, biaya masuk ke museum ini sangatlah murah, hanya dengan Rp. 3.000,- anda sudah bebas mengitari area perundingan dan bebas berfoto-foto ria. Biaya itu belum ditambah biaya parkir jika anda kesini menggunakan kendaraan pribadi, biaya parkir sekitar Rp. 5.000,- .

Di museum ini terdapat kamar-kamar tidur dari para pejuang diplomatik bangsa kita saat itu, seperti Sutan Syahrir, Soesanto, Tirtoprodjo, Mr. Mohamad Roem dan Dr. A. K Gani. Terdapat juga replika kecil atau semacam miniatur dari perundingan Linggarjati.

 (abaikan orang sebelah kiri) Miniatur dari peristiwa perundingan Linggarjati



Didalam museum ini juga terdapat foto-foto dari peristiwa perundingan Linggarjati dan foto-foto pendiri bangsa ini.

Hormat kepada salah satu orang yang paling berjasa buat bangsa ini.


 
Seperti kata Bung Karno “Jas Merah”. Jangan sekali-kali kalian melupakan sejarah. Terkadang ada bagusnya berwisata ke Museum-museum dibanding kita pergi ke mall atau ke pantai. Di museum kita bisa belajar banyak hal, lebih mengenal banyak hal dan sejarahnya. Daripada menghabiskan berjam-jam membaca buku sejarah yang biasanya baru sepuluh menit saja sudah mengantuk. Kenapa kita tidak langsung kunjungi saja tempat-tempat yang ada di buku sejarah, saya jamin kita tidak akan mengantuk.

Minggu, 07 Oktober 2018

Touring dadakan ke Curug Cigentis


Sewaktu masih bekerja di sebuah perusahaan minuman (yang tidak perlu disebutkan namanya) saya pernah tidak sengaja mengadakan touring dadakan. Kenapa dadakan?. Karena saat itu kami pulang pagi (shift malam). Pagi itu di depan area pabrik kami ngopi-ngopi sambil ngomongin masalah kerjaan, futsal sampai ke hal-hal seperti janda muda. Entah bagaimana bisa kemudian terbesit dalam benak saya untuk mengajak mereka pergi ke curug. Pertama saya menduga mereka semua bakal menolak, tapi sambil saling menatap mereka melongo lalu bilang, “boleh juga tuh idenya”. Padahal itu hanya pikiran iseng belaka.

Curug cigentis sendiri berada di Mekarbuana, Tegalwaru, Kabupaten Karawang dan tidak terlalu jauh dari lokasi pabrik kami waktu itu (tambun, Kabupaten bekasi). Setelah membeli perbekalan di indomart kami meluncur. Karena sebelumnya kami ngopi dulu, jadi setidaknya mata dan raga kami masih kuat berkendara. Sekitar dua jam perjalanan yang saya tidak sempat dokumentasikan dengan kamera, akhirnya kami sampai di area curug. Walau jalan menuju area ini cukup terjal dan banyak jalanan rusak, tapi perjuangan itu terbayar setelah kami sampai di area curug.


Tampak perbukitan khas pegunungan, walau bukan gunung beneran tapi setidaknya kalian bisa melatih fisik untuk mendaki disini.


Di curug ini kami harus lebih berjuang untuk kesana. Motor-motor yang kami pakai tidak kuat menanjak lebih jauh lagi dan akhirnya harus di parkirkan. Biayanya cukup murah hanya dengan Rp. 5000,- kalian bebas menitipkan motor sampai sore. Lalu mengenai biaya masuk ke curug sendiri sekitar Rp. 20.000,-/per-orang (harga parkir dan biaya masuk bisa berubah sewaktu-waktu). Kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.

Tampak sekali teman-teman saya sudah hampir ga kuat berjalan lagi.





Sekadar peringatan, kalau kalian suka berinstagram atau berfacebook ria. Didaerah ini sangat susah sinyal. Bahkan sinyal telkomsel saya sama sekali nol. Saran saya lebih baik kalian abadikan saja dengan kamera, lalu setelah turun dari daerah ini barulah kalian mengupload sepuasnya.


Tidak cuma naik turun, tapi jalan setapaknya juga berkelok-kelok dan benar-benar menguras tenaga.



Untuk ukuran wisata alam, tempat ini termasuk murah meriah dan cukup mudah di jangkau buat kalian yang tinggal di bekasi, cikampek atau sekitarnya. Berjalan-jalan di antara pepohonan membuat pikiran kita tenang. Terlepas dari segala beban pikiran yang selama ini menghantui kita.


  Sepanjang perjalanan kami diiringi gemericik dari sungai kecil.
Berarti lokasi air terjun curug sudah semakin dekat. Kami semakin bersemangat melangkah walau agak terhuyung-huyung karena lapar mungkin.
Sekitar lima belas menit berjalan dari area tadi, dan finally.



Teman saya si wahyu langsung membuka kaus dan celana jinsnya (lihat orang paling kiri), dia sudah siap basah-basahan.


Sementara saya dan dua orang teman saya memesan mie rebus. Sambil menunggu mie rebus matang, kita foto-foto dulu.


Kali ini biar saya juru fotonya, karena lagi malu didepan kamera, hihihi.



Lumayan lama menghabiskan waktu ditempat ini. Menikmati gemericik air, suara jangkrik dan burung dimana mana. Rasanya saya mau selamanya di sini, haha.


Selepas berbasah-basah ria dan makan mie rebus, kami memutuskan untuk pulang karena waktu itu sudah menunjukan pukul empat sore. Kami tidak mau pulang terlalu malam jadi kami segera memutuskan untuk pulang. Setelah berhasil ke tempat parkir kami langsung bergegas pergi. Bye bye cigentis.




Mampir sebentar untuk salat maghrib, saya diluar menjaga motor-motor lalu sehabis mereka selesai –giliran saya salat





Kami sampai di rumah masing-masing sekitar jam sembilanan karena terjebak macet di daerah tambun. Tapi untungnya besok kami libur kerja, jadi ada waktu istirahat.